“Ra, kita ketemu di tempat biasa ya! ada yang mau aku certain.” Aku tertegun membaca pesan di handphone ku, rasa malas menjalar dalam tubuhku, rasa enggan untuk bertemu dengan Sinta pada hari itu. Aku harus membereskan pekerjaanku yang sudah menumpuk ini. Aku mulai mencari-cari alasan agar aku tidak bertemu dengannya, namun aku merasa aku juga harus keluar dari rumitnya pekerjaanku ini. Aku bingung, dan tak tahu harus bagaimana, akhirnya aku memutuskan untuk menemuinya dan berharap ada hal baru yang dapat membuatku tertawa. Jam 18.30 aku sampai di tempat dimana aku janji bertemu dengan shinta, di sebuah café kecil dimana aku senang memilih tempat dekat kaca samping sambil menikmati coffee latte ku. Hari itu hujan deras, dingin, dan sangat tepat untuk menikmati secangkir latte panas favorite dengan cokelat ekstra diatasnya. Shinta sudah menunggu di tempat duduk favorite ku, dia langsung berdiri dan menghampiriku. Matanya sembab sepertinya dia habis menangis, wajah muram dan aku tidak segan untuk menanyakan keadaanya. “Ada apa ta? kok muram banget?”, tiba-tiba air mata mengalir di pipinya yang putih bersih. “Arga selingkuh ra, sekarang aku tahu gimana rasanya jadi kamu waktu kamu dikhianati Ted. Aku nyesel kenapa dulu aku tidak ada disisi kamu waktu kamu ngerasain perasaan yang kayak gini. aku emang bukan sahabat yang baik ra”. “Arga selingkuh ta? kok bisa?”, aku terheran heran mengapa seorang Arga bisa-bisanya mengkhianati Shinta. Shinta seorang yang cantik, pandai, bahkan banyak pria-pria yang rela antri hanya sekedar untuk mendapatkan waktu makan malam bersamanya. “Kok nanyanya kayak gitu? sekarang permasalahnya bukan itu ra”, “jadi apa? dari dulu kan dah aku bilang kalau dia emang brengsek, ta.” aku pun memberi penegasan dan mencoba membuatnya kembali tegar, namun dia tambah menangis meraung-raung. Tak heran jika seluruh mata dalam ruangan café itu pun memandangi kami dengan aneh. “Aku sayang banget ma dia ra, sayang banget. Aku tidak habis pikir kenapa dia bisa mengkhianati aku” Shinta kembali menangis, aku hanya bisa meraih dan memeluknya. Aku rasakan segukkan tangisan yang dalam, begitu dalamnya cinta Shinta ke arga dan yang ia dapat adalah pengkhinatan.
Aku pandangi rintikan hujan di jendela kaca café sambil mendengarkan cerita curhatan shinta, latte ku pun sudah habis ku minum. Aku merasa begitu dingin diluar, namun didalam café kecil ini aku mendapatkan kehangatan yang luar biasa. Ruangan bernuansakan warna cokelat kayu dan kuning membuat ruangan ini begitu hangat ditambah lagi alunan musik jazz membuatku semakin betah berlama-lama disini. “Ra, aku minta maaf kalo selama ini aku tidak ada saat kamu… dengan Ted.. ya, kamu ngerti kan”, Shinta memandangiku dengan tatapan yang menunjukan kalau dia adalah wanita yang sangat kuat. “Ta, aku tidak apa-apa. Itu sudah menjadi masa lalu, pengkhianatan memang sangat menyakitkan tapi kita tidak boleh terus berada dalam hal yang menyakitkan. Aku bisa kayak gini sekarang juga karna kamu juga, aku belajar untuk berdamai dengan diri aku dan memaafkan dia. Kamu juga harus bisa berdamai dengan diri kamu ta!” Akhirnya Shinta tersenyum, dan menghela nafas “waktunya untuk bersenang-senang nih ra..” Senyum centilnya mulai merebak, dan membuatku semakin gemas dengan sahabatku ini.
Sudah lama aku tak mengingat betapa sakitnya kejadian dimana Ted mengkhianatiku, aku pun tak pernah habis pikir mengapa Ted mengkhianatiku. Orang yang selama ini aku percaya dan aku sayangi ternyata memberikanku kepahitan. Aku pun sering bertanya-tanya apakah ia bahagia dengan wanita itu, namun aku sudah tak ingin mengingatnya lagi. Hal itu hanyalah suatu bagian dalam hidupku yang harus aku tanggapi dengan positif, hal itu pula yang membuatku menjadi semakin dewasa dalam menentukan pilihan hidupku. Tiba-tiba alunan musik lagu u’re beatifull dari james blunt pun mengalun di café tersebut, lagu yang pertama kali Ted berikan sebelum kami pacaran dulu. Ku dengarkan secara seksama lagu tersebut, mengingat masa-masa dimana aku dan Ted masih bersama, huff.. jika aku bisa bertemunya mungkin yang ingin aku tanyakan adalah mengapa ia mengkhianatiku. Perasaan sayang ku kepadanya pun sudah mencair dan menguap dengan kebencianku padanya. “Ra?” Shinta membuyarkan lamunanku, “Dah malam, pulang yuk besok kan masuk kerja lagi”. Aku tersenyum dan memastikan bahwa dia sudah merasa baikan setelah bercerita panjang lebar mengenai Arga. Handphone ku pun berbunyi, ku pandangi dan ternyata sms dari seorang teman ku Dika ‘Ra, dah tidur belum? gimana kerjaan?’.
Aku segera beranjak dari tempat dudukku dan mengindahkan sms dari Dika. Ingin rasanya memencet tombol reply dan menanyakan kabarnya juga. Sudah beberapa hari ini aku dan dia tak saling memberi kabar, entahlah ada gerangan apa yang membuat kami menjadi seperti ini. Hal yang membuatku semakin tak mengerti adalah aku semakin merindukannya. “Siapa ra? kok kamu kayak bingung gitu sih? masalah kerjaan lagi ya?” shinta memandangku dengan penasaran. Aku tak pernah bercerita mengenai Dika kepadanya, memang Shinta adalah sahabatku namun kurasa ada hal yang tak perlu ia ketahui. Ingin sekali aku bercerita padanya dan menanyakan pendapatnya mengenai permasalahanku ini, namun mengingat dia juga sedang bersedih hati akhirnya aku mengurungkan niatku untuk bercerita. “Temen ta, nanya kabar aja.”
Disepanjang perjalanan menuju rumah, pikiranku menuju pada Dika. Berkali-kali ku pandangi isi sms tersebut, singkat namun membuat hatiku gelisah. Ada keinginan untuk membalas pesan tersebut namun ada sisi yang mengatakan tidak boleh. Aku menghela nafas dan aku hapus sms tersebut. Handphone ku kembali berdering,‘Ra, Thanks ya dah jadi sahabat aku dan mau mendengarkan uneg-uneg aku. Aku juga harus bisa jadi tough girl kayak kamu J’. Ku pikir Dika yang mengirim sms, ternyata Shinta. Aku pun segera membalas pesan dari Shinta, ‘Aku akan slalu berusaha untuk terus ada di sisi kamu kapan pun kamu membutuhkan aku ta. Hayoo.. masih banyak pria di luar sana yang ngantri buat kamu J. Dunia tidak akan berhenti berputar kok saat kamu kehilangan dia. Be strong ok?! btw, lain kali nyoba ekspreso yuk’. Bunyi sms masuk pun berbunyi kembali;
bersambung..